Pentas Kebebasan

FASHION+FOR+WORD+%28207+of+328%29.jpg

Fashion ForWords: Sebuah permainan kata dari fashion forward—yang maknanya bagiku bukan selangkah di depan tren terkini, melainkan fesyen dengan visi masa depan yang lebih baik. For Words berarti untuk wicara, untuk meneguhkan bahwa kita tidak akan menyerahkan kebebasan kita begitu saja.

Pakaian adalah medium ekspresi yang sangat dekat dengan kita sehari-hari. Kita semua pasti pernah mengalami dicemooh karena pakaian kita dianggap terlalu terbuka, terlalu feminin, atau apalah. Mungkin pernah juga mengikuti diskusi atau menonton konser, tiba-tiba diserang massa. Baru-baru ini muncul petisi memboikot film Kucumbu Tubuh Indahku karena penggambaran ekspresi gender dan seksualitas yang memang ada di negeri ini.

Ide untuk Fashion ForWords pun datang setelah peluncuran novel saya dibatalkan dan saya memprotes dengan memakai kaus bertulisan nukilan-nukilan novel. Dari situ saya berpikir, bagaimana lagi pakaian dapat melampaui represi? Saya percaya inovasi berpakaian dapat membuka jalan bagi perbaikan cara kita hidup.

 Namun, bagaimana bisa tetap jujur, bebas, dan aman—sekarang ini, itu tidak mudah. Ketakutan dan kepatuhan dipupuk di masyarakat dengan ancaman pasal penodaan, pasal defamasi, bullying, dan kekerasan. Kita jadi mudah menyensor diri, diprotes sedikit saja buku dibakar, film diturunkan, seniman dipaksa meminta maaf. Fashion ForWords ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi saya dan tim untuk menjadi berani dan mumpuni dalam membuka ruang ekspresi yang bebas dan aman.

Memang, yang tidak setuju dengan kami juga bisa berteriak kebebasan berekspresi. Kita semua memilikinya, tapi yang tidak sama-sama kita miliki adalah akses, kesempatan, audience, influence, jaminan keamanan dan political climate yang memihak ke mana. Akibatnya, ada yang lebih leluasa berekspresi dan ada yang terpinggirkan, tertekan, bahkan tergilas.

Maka jika kalian mendukung visi kami tentang kesetaraan dan kemanusiaan, saya mengajak hadirin sekalian untuk bertanya: apa yang saya punya, apa yang bisa saya lakukan. Yang punya keterampilan berbagilah dengan mereka yang masih mencari bentuk perjuangan. Yang punya audience berbagilah panggung dengan mereka yang butuh ceritanya diperhatikan. Yang punya influence, gunakan untuk membuka jalan. Mari bicara tentang apa yang bisa kita lakukan bersama. Hingga suatu saat nanti pentas kebebasan tidak hanya di acara-acara tertentu seperti ini, tapi seluruh bumi ini.

Terima kasih.

Eliza Vitri Handayani

Penggagas & Pengarah Acara

Eliza Handayani