Freeing Fashion

“Banned Books Dress” by Eliza Vitri Handayani and Ayudilamar  Foto oleh Jin Panji dan tim

“Banned Books Dress” by Eliza Vitri Handayani and Ayudilamar

Foto oleh Jin Panji dan tim

Selamat datang!

Pikiran dan pakaian sama-sama sering dikekang di negeri ini. Kita semua pernah merasakan dicaci-maki karena pakaian kita dianggap terlalu terbuka, terlalu feminin atau apalah. Mungkin pernah juga sedang menonton konser atau menyimak diskusi tiba-tiba diserang ormas. Ketika polisi memerintahkan sebuah festival sastra untuk membatalkan acara-acaranya yang dinilai politis, peluncuran novel saya ikut menjadi korban. Saya merespon dengan mencetak nukilan novel itu pada kaus dan memakainya selama festival. Dari situ saya bertanya, dengan cara apa lagi pakaian dapat melampaui represi? Bagaimana pakaian dapat menawarkan perlawanan yang berarti?

Inovasi berpakaian dapat membuka jalan bagi pembebasan dan perbaikan cara kita hidup. Pakaian yang mendobrak aturan gender dapat membiasakan kita menerima kompleksitas setiap individu. Pakaian yang menghargai nilai kerja pembuatnya dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keadilan sosial. Pakaian yang memprotes standar kecantikan yang bias, atau yang melawan ajaran agama yang merendahkan perempuan, menjadi bentuk perjuangan sehari-hari. Perspektif fesyen yang membebaskan inilah benang merah yang menjalin karya-karya dalam pameran ini.

Langsung terbersit judul Fashion ForWords: sebuah ajang fashion yang forward dan for words. Forward dalam arti bukan sekadar selangkah di depan tren terkini, melainkan fesyen dengan visi masa depan yang lebih baik. For Words berarti ‘untuk wicara’—koleksi pakaian dan ajang seni ini adalah wujud upaya kami untuk menjadi berani dan mumpuni dalam membuka ruang ekspresi yang bebas dan aman.

Mari masuk, dan nikmati karya-karya kami dengan bijaksana. Mari saling menjaga kebebasan kita untuk bersuara, berpakaian, dan berkreasi.

 

 

Eliza Vitri Handayani

Penggagas & Pengarah Acara

Eliza Handayani