Sandang dan Beban yang Disandangnya

Foto oleh Jin Panji

Foto oleh Jin Panji

Pakaian bagi saya selalu terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi ia berfungsi melindungi, di sisi lainnya bisa jadi menyakiti. Pakaian adalah alasan orangtua saya melarang saya ikut les tari Jawa, dan alasan yang sebelumnya saya yakini membuat saya berkali-kali mengalami pelecehan seksual. Saya juga masih ingat tips-tips memilih pakaian dari majalah mode supaya terlihat lebih ramping, lebih feminin, dan banyak lagi tanpa pernah membahas perasaan atau pemikiran pemakai pakaian itu sendiri. Belum lagi pendapat orang-orang di sekitar kita yang terus-menerus mengomentari pakaian dan tubuh kita seolah itu urusan mereka. Semua itu adalah bentuk represi yang sering kita alami sejak kecil hingga dewasa. Semua alasan tersebut membuat setiap pakaian yang kita kenakan menjadi sebuah pilihan politis, baik kita sadari maupun tidak. 

 Untuk menyikapi cemoohan yang sering dilontarkan orang kepada perempuan karena pakaian dan tubuh mereka, A. Andamari membuat karya yang terasa seperti sekumpulan senjata yang akan membungkam mereka yang suka mencemooh untuk berpikir dua kali atau bahkan menghentikan kebiasaan buruk mereka. Lalu ada Wangsit Firmantika yang memperhatikan betapa terbatasnya pilihan model pakaian lelaki di mal-mal saat ini. Keterbatasan itu melanggengkan sebuah definisi maskulinitas yang sempit. Padahal, pada kenyataannya banyak lelaki menginginkan pilihan pakaian yang jauh lebih beragam, dan tidak merasa maskulinitas mereka terancam.

Ayudilamar, salah satu seniman Fashion ForWords yang juga seorang desainer fesyen, tidak rela melihat betapa mudahnya orang membeli lalu membuang pakaian ready to wear mereka begitu saja karena bosan. Berkolaborasi dengan perwakilan buruh garmen dari FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik), Ayu membuat serangkaian karya yang menceritakan tentang siapa dan bagaimana kehidupan mereka yang membuat pakaian-pakaian tersebut.

Seniman keempat adalah Kolektif As-Salam yang berbicara tentang hubungan pakaian dengan keyakinan, khususnya dalam konteks Islam. Terlepas dari semakin besarnya industri hijab di Indonesia, pada kenyataannya masih banyak terjadi penghakiman terhadap cara orang memakai atau tidak memakai hijab. Belum lagi diskriminasi yang berhubungan dengan cara berpakaian dan ketakwaan mereka sebagai Muslim. Padahal bermain Tuhan mestinya bukanlah bagian dari sebuah agama atau keyakinan mana pun.

Pameran Fashion ForWords membicarakan berbagai bentuk beban yang kita kenakan pada pakaian kita sehari-hari hingga membuat pakaian menjadi sesuatu yang memberatkan; karya-karya yang dipamerkan menawarkan intipan ke bagaimana pakaian dapat membebaskan serta menjadi medium ekspresi individu yang berdaya.  

Ika Vantiani

Kurator

Eliza Handayani