Sandang dan Kemanusiaan yang Beradab

Oleh Aprina Murwanti

Dosen, kurator, periset dan pendiri ICFAM Jakarta (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement)

Satu bis penuh wisatawan dari Jepang berkunjung ke sebuah sentra batik dan garmen di Pekalongan. Mereka diajak membatik bersama, awalnya semua  merasa gembira, namun kemudian bingung melihat perajin mencelup kain tak memakai sarung tangan. Mereka menyaksikan telapak para perajin kebas terkena naphtol—zat warna batik murah penyebab kanker yang telah lama dilarang dipakai di berbagai negara. Bau menyengat muncul dari saluran air yang melintasi area, dan mereka melewati sungai hitam dengan tepian gersang ketika pulang dari lokasi. Sebuah promosi tak selalu berakhir bahagia. Dua dari mereka berjanji tak akan kembali dan menghubungi saya untuk bertanya ke manakah harus mencari batik Indonesia yang sebenarnya.

Lebih dari 1500 tahun Nusantara memiliki sejarah panjang menciptakan kain dan ragam hiasnya. Sandang berfungsi sebagai karya seni sekaligus produk industri penting bagi Indonesia. Hingga kini, sandang tetap berperan penting dalam ekonomi—Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia melaporkan bahwa subsektor fesyen menempati peringkat ekspor teratas dalam sektor ekonomi kreatif, sebesar 54,54% pada 2016 (BEKRAF, 2018), disusul oleh subsektor kriya sebesar 39,01%. Produk fesyen juga merupakan produk ekonomi kreatif yang paling banyak dibeli melalui platform e-commerce, yaitu sekitar 48,2% (BEKRAF, 2018).  

Meskipun fesyen digadang-gadang sebagai produk ekonomi kreatif dengan ekspor terbesar, namun berdasarkan data Kementrian Perindustrian tahun 2017, industri tekstil dan pakaian justru menyusut sejak 2015. Penyusutan -4,79% terjadi pada 2015 dan -0,13% pada 2016. Walaupun menyusut, industri tekstil dan pakaian masih menjadi salah satu industri andalan ekspor non-migas Indonesia. Daftar negara tujuan ekspor pakaian didominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Australia, Hongkong, Italia dan Perancis. Ekspor pakaian juga ditujukan ke negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand (Kementrian Perindustrian, 2017).

Penyusutan industri tekstil dan pakaian sebenarnya merupakan hal yang melegakan. Industri pakaian menempati posisi sebagai pembuat polusi terbesar nomor dua di dunia. Pesatnya industri pakaian yang bergantung pada pergerakan fesyen, memberikan tekanan besar bagi pelaku-pelaku produksinya di negara berkembang.  Rantai produksi menjadi serba cepat dan kilat, kerap kali menyebabkan pengelola abai atas keselamatan dan kesejahteraan pekerjanya. Sebuah bangunan pabrik garmen di Bangladesh,  Rana Plaza, runtuh pada 2013, menewaskan lebih dari 1200 pekerja garmen yang berada di dalamnya. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi di Indonesia, salah satu negara yang terkenal dengan buruh terampilnya yang dipromosikan murah-meriah.

Gerak produksi fast fashion beberapa kali telah menuai luka di Indonesia, salah satunya pada 2015: sebanyak 4000 pekerja pabrik Jaba Garmindo kehilangan pekerjaan. Pabrik mereka bangkrut karena UNIQLO menarik pesanannya. Produksi telah diselesaikan pada Oktober 2014, tetapi pada Januari 2015, upah pekerja tidak lagi dibayar tepat waktu, disusul kebangkrutan perusahaan pada April 2015, meninggalkan pekerja menganggur,  tanpa upah dan pesangon.

Selama ini, pekerja garmen di Indonesia selalu dibayangi pernyataan bahwa mereka cukup beruntung karena punya pekerjaan. Kondisi ini terjadi di berbagai negara: “Garment-factory workers, we are told, should consider themselves lucky to have jobs” (Minney, 2016). Bekerja lembur adalah normal, bayaran di bawah UMR adalah hal biasa, dan mereka tak punya daya untuk menolak.

 

Menukar Warisan Budaya

Mengutip Presiden Jokowi, BEKRAF mencantumkan pernyataan pada buku Opus Outlook 2019: “Kalau ingin bersaing dengan industri canggih, kita akan kalah dengan Jerman dan Cina. Tapi di bidang ekonomi kreatif ini, besar peluangnya kita akan jadi pemenang!” Berbagai program diselenggarakan untuk menggalakkan ekonomi kreatif—sebuah istilah yang didefinisikan BEKRAF (2018) sebagai “perwujudan nilai tambah dari suatu hak kekayaan intelektual yang lahir dari kreativitas manusia, berbasis ilmu pengetahuan, warisan budaya, dan teknologi”.

Dahulu, kain tradisional erat kaitannya dengan kepercayaan manusia. Masyarakat memakainya sebagai sandang untuk merayakan daur hidup. Unsur hias pada kain seringkali merupakan pengakuan atas keberadaan dan kemuliaan Yang Maha Agung. Kain tradisional juga merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat Sumba di masa lalu. Kain menandai setiap peristiwa penting dalam hidup manusia. Helaian kain Hinggi (kain adat untuk laki-laki bangsawan) dan Lau (kain adat untuk perempuan bangsawan) bahkan dikubur bersama para pemimpin adat sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Kain Sumba dan ragam hias yang tertenun mencerminkan hubungan alam dan manusia yang saling memberi, merefleksikan kondisi di Sumba.

Seiring majunya pariwisata dan munculnya selebritis yang merayakan indahnya alam Sumba, wilayah ini bergeser menjadi tambang emas komoditas. Kain tradisional yang dulu ditenun oleh masyarakat Sumba asli kini banyak ditenun oleh penduduk dari Flores dan Sawu dengan motif-motif tradisional Sumba untuk memenuhi kebutuhan cindera mata di Sumba. Penenun-penenun dari Jepara mengirimkan kain tenun Troso bermotif kuda, ayam, dan berbagai motif Sumba lainnya untuk dijual sebagai suvenir murah di perhentian-perhentian bis pariwisata di Sumba, menjangkau wisatawan berkantong pas-pasan. Meskipun diproduksi dengan serat, pewarna, dan tekstur yang sangat berbeda secara kasat mata, kini masyarakat umum tak mengenal kain Sumba mana yang asli dan yang replika. Semuanya bercampur aduk atas nama kemajuan pariwisata.

Posisi kain tradisional telah jauh bergeser di masa kini. Demi mengejar pasar dan kuantitas, peralihan penggunaan zat warna alami ke zat warna sintetis, perubahan benang kapas pintal tangan ke penggunaan benang rayon sudah dimaklumi. Menghilangnya penanda kasta dan status dalam kain tradisional merupakan fakta atas berubahnya orientasi masyarakat pada kain dan sandang. Kain tradisi kini seringkali tak bertumpu pada hasta dan hati, namun dikerjakan berdasarkan pesanan dengan menetapkan standard angka dan nilai ekonomi. Nilai adat dikonversi dengan nilai ekspor. Warisan sandang dan simbol sakral ditukar dengan produktivitas.

 

Menjaga Estetika Kampung

Cita-cita untuk memajukan industri rumahan kain dan meningkatkan ekonominya membuat desainer berbondong-bondong masuk kampung dan desa. Panitia meyakinkan bahwa ini merupakan bentuk pemberdayaan. Pembuat kain tradisi disodori rupa yang tak pernah mereka kenal, warna-warna kota, ragam hias minimalis, sandang dengan visual yang sangat berbeda. Para pembuat kain kemudian harus beradaptasi dengan bahasa rupa antah-berantah. Ketika karya ‘kolaborasi’ itu sukses, sang desainer berangkat ke pusat mode dunia. Satu, dua, dan beberapa koleksi terjual dan desainer berpindah ke wilayah lainnya demi ‘pemerataan’, meninggalkan sang pembuat kain.

Sebagian kecil dari kaum pembuat kain merasakan kejayaan berkat sentuhan ‘kemajuan estetik’ ini, sebagian besar lainnya terjerembab kebingungan. Eksposur sang desainer dan kainnya mengisi ruang-ruang media massa dan kain-kain serupa seketika ada di berbagai penjuru pusat perdagangan secara masif. Pembuat kain tak mengerti harus ke mana, hasil penjualan kain menipis dan siklus hutang ke rentenir kembali mengintai. Nasib mereka kembali bertumpu di tangan pengepul kain, tengkulak dan perantara. Seorang maestro kain Nusantara bahkan pernah mendaftarkan puluhan ragam hias adat sebagai hasil ciptaannya ketika melakukan ‘pembinaan’ di daerah. Para pembuat kain dan masyarakat adat sangat marah, tapi kemarahan mereka tertelan hingar-bingar karpet merah.

Kisah pedih tak hanya mengiringi para pembuat kain, tetapi juga pekerja dan pengusaha kecil konveksi di sebuah propinsi di Jawa. Mereka diminta menandatangani penerimaan mesin-mesin jahit tercanggih dan terbaik, difoto bersama mesin-mesin itu. Pihak ‘pemberi’ berjanji untuk memberikan pelatihan yang mendukung keberlanjutan produksi. Sebulan kemudian, mesin-mesin itu dijemput pihak rental. Pengadaan mesin itu ternyata hanya sewa agar bisa ditunjukkan dalam laporan akhir tahun sang penguasa.  Maka, kemudian mereka memilih kembali mencicil mesin dengan bunga menjulang dari rentenir keliling, karena bagi mereka kemerdekaan adalah adanya kepastian. Target mereka bukanlah jahitan berstandard internasional namun keberlanjutan periuk nasi dan kepastian bahwa mesin yang mereka pakai bukan hanya menjadi dekorasi temporer sebuah balai di desa.

 

Melambat untuk Kemanusiaan  yang Adil dan Beradab

Inisiatif pemerintah maupun swasta untuk melaksanakan berbagai program pendorong ekonomi kreatif industri fesyen, kriya, dan garmen patut diapresiasi. Namun, sudahkah kita bersama-sama menjaga perkembangan ini dalam jalur kemanusiaan?  Membaca kembali Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-4 (2020-2025) Republik Indonesia yang berbunyi: “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing.” (Bappenas 2014, 2-3), sudah saatnya kita dengan kritis bertanya, apakah kemajuan selalu bersandar pada kecepatan dan percepatan?

Maju, adil, dan makmur kerap kali berbanding terbalik dengan percepatan. Warni, pekerja PT Jaba Garmindo, berbagi kisahnya sebagai buruh fesyen cepat (fast fashion):

“Kadang saya menjahit 900 lengan dalam satu hari. Kami bahkan tidak bisa beristirahat di toilet. Ketika suami saya sakit keras dan harus pergi ke rumah sakit, saya ditolak untuk mengambil liburan saya untuk merawatnya, dan saya kehilangan dia.”

Industri fesyen merupakan kunci dari gerakan revolusi berkelanjutan. Dengan melambat, kita memberi diri kita kesempatan untuk menjadi manusia yang beradab. Safia Minney menyatakan bahwa dengan membantu industri fesyen untuk melambat, kita akan memiliki waktu untuk bersama-sama memeriksa bahwa produksi berlaku adil dan jauh dari eksploitasi. Kita bisa memilih menjadi manusia yang tidak menuntut sandang maupun wastra murah, trendi, bagus dan sempurna, karena dengan menerima yang kurang sempurna, kita mungkin menyelamatkan jiwa-jiwa. Bersama-sama, mari merayakan waktu, energi, perhatian, estetika kampung dan kehati-hatian demi kemanusiaan yang adil dan beradab.

 

Referensi

Achjadi, J. 2012. Untannun Kameloan: Textiles of Toraja, Mamasa, Kalumpang, Rongkong Sulawesi, Indonesia, Yayasan Toraja Melo, Toraja

BEKRAF, 2019. Opus 2019, Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Jakarta.

Corbett, S. 2017. How to be a Craftivist: The Art of Gentle Protest. Unbound Publisher, London.

Cita Tenun Indonesia, 2010. Tenun: Handwoven Textiles of Indonesia. Disunting oleh Sian E. Jay dan Judi Achjadi, Cita Tenun Indonesia, Jakarta.

Clean Clothes, 2018. ‘Tell UNIQLO: pay the debt owed to workers who made your clothes’, https://cleanclothes.org/jaba-garmindo, diakses 20 Maret 2019.

Kartiwa, S. 2007. Ragam Kain Tradisional Indonesia Tenun Ikat. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Minney, S. 2016. Slow Fashion: Aesthetics Meets Ethics. New Internationalist Publisher, Northamptonshire.

Kementerian Perindustrian, 2018. Industry Facts and Figures 2017. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Jakarta.

Siaran Pers, 2018. ‘Perlawan Buruh PT Jaba Garmindo atas UNIQLO sampai ke Jepang’, Okt 23, 2018, https://spn.or.id/perlawan-buruh-pt-jaba-garmindo-atas-uniqlo-sampai-ke-jepang/, diakses 20 Maret 2019.

Workers Right Consorsium, 2015. Worker Rights Consortium Assessment Pt Jaba Garmindo (Indonesia) Findings, Recommendations, And Status. 21 Desember 2015, Washington, Indonesia%29%2012.21.2015.pdf, diakses 20 Maret 2019.

Eliza Handayani