Crocheting | Sulam

With // Bersama Fahrul Piliang

(ENG) With the workshop participants, the artist discussed the evolution of dress styles and norms while reconditioning old clothes by sewing crocheted patches onto them. We also invited the participants to look into their family's photo albums to see styles of the past and how they changed over time. In the workshop we encouraged participants to explore their personal histories and their family attitudes towards clothes. Then the participants discussed the changes in dressing norms and how it impacts their personal life and community.

(IND) Dari waktu ke waktu, fesyen memberikan sudut pandang berbeda mengenai kultur, situasi sosial, bahkan politik yang mengiringinya. Mari berdiskusi tentang evolusi gaya berpakaian sembari merekondisi pakaian lamamu bersama Fahrul Piliang. Bawa pakaian lamamu, pakaian lama ibu, ayah, nenek, atau kakek, untuk diberi sentuhan patch rajutan. Tengoklah ke album-album keluargamu untuk melihat gaya berpakaian di masa-masa lalu, dan jika bersedia, bawalah sebuah foto lawas yang menceritakan kenangan yang pernah ada, dari masa ke masa.

Melalui lokakarya ini peserta diajak menggali sejarah pribadi masing-masing mengenai sikap mereka dan keluarga terhadap pakaian - hal ini dilakukan dengan membawa foto atau pakaian lama yang mereka miliki - kemudian para peserta bersama seniman dan panitia berdiskusi mengenai perubahan standar kesantunan dan maknanya bagi kehidupan pribadi dan masyarakat.

 
WhatsApp+Image+2019-05-02+at+13.11.58.jpg

(ENG) FAHRUL PILIANG is a craftsman who enjoys embroidery, knitting, and weaving. He also participated in House of the Unsilenced. His work with three survivors of sexual abuse, "Don't Call Me Flowers!" resulted in an award by Opini.id, making him one of the "90 Young Indonesians Ready to Shake the World".

(IND) FAHRUL PILIANG adalah seorang apoteker yang juga berakting, merajut, dan membuat kriya. Tahun lalu ia turut menyumbang karya dalam ajang seni House of the Unsilenced. Karyanya “Backbone” adalah hasil kolaborasi bersama para aktivis Turc-ID, sebuah kampanye untuk meningkatkan kesejahteraan buruh perempuan.

Eliza Handayani