Indonesian Muslim Looks

Kolektif As-Salam

(As-Salam Collective)

Foto oleh Jin Panji dan tim

Foto oleh Jin Panji dan tim

01

Traditional Indonesian Muslim Look

2019

Mixed media clothing

Variable dimensions

 

(ENG) Kebaya is a traditional Javanese dress, which has long been a national dress of Indonesia. When Islam first entered the archipelago, which is now Indonesia, the culture of wearing headscarves was adapted by some Muslim women, who then combined it with kebaya that they wore daily. This combination shows the harmonization of Islamic culture and local culture, without one negating the other. Until now, many Indonesian Muslim women still wear kebaya with heardscarf, especially for formal occasions, such as weddings.

For this look, the artists have made a two sided, 100x110 cm, silk batik headscarf. On one side we printed our creation of the female symbol, intertwined with wild orchids, which symbolizes women’s ability to thrive in adverse conditions; completed with the message, “Indonesian Muslim women, your voice matters, with or without hijab.” On the other side, we printed the traditional symbol of the aren tree, which symbolizes women’s strength and resilience, with the message, “I wear hijab only for Allah, not for men.”

© As-Salam Collective

© As-Salam Collective

© As-Salam Collective

© As-Salam Collective

(IND) Kebaya merupakan pakaian tradisional Jawa, yang sejak lama sudah diakui menjadi pakaian nasional Indonesia. Ketika Islam pertama-tama masuk ke Indonesia (Nusantara pada masa itu), budaya memakai penutup kepala diadaptasi sebagian perempuan Islam, yang kemudian memadukannya dengan kebaya yang dipakai sehari-hari. Perpaduan ini menunjukkan harmonisasi budaya Islam dan budaya lokal yang berlangsung dengan baik, tanpa salah satunya menegasi yang lain. Hingga kini, pemakaian kebaya dengan kerudung atau jilbab masih sangat umum ditemui, terutama untuk acara-acara formal, seperti pesta pernikahan.

Karya ini, berbentuk jilbab sutra batik, 100x110 cm, yang digambar tangan dan memiliki dua sisi. Pada satu sisi, kami mencetak kreasi simbol perempuan yang terjalin dengan anggrek liar, melambangkan kemampuan perempuan untuk berkembang dalam kondisi yang penuh tantangan, lengkap dengan pesan: "Perempuan Muslim Indonesia, suaramu berharga, dengan atau tanpa jilbab" . Pada sisi lainnya, kami mencetak simbol tradisional pohon aren, yang melambangkan kekuatan dan ketahanan perempuan, dengan pesan, "Aku memakai jilbab hanya untuk Allah, bukan untuk laki-laki."

Foto oleh Jin Panji dan tim

Foto oleh Jin Panji dan tim

02

Funky Indonesian Muslim Look

2019

Mixed media clothing

Variable dimensions

 

(ENG) Globalization makes the world feel smaller, cultural exchanges also become increasingly possible. Modern Indonesian Muslim women who choose to cover their hair are becoming increasingly creative in how they do so. They no longer only wear kebaya and hijab, they wear T-shirts, blouses, jeans, and dresses with their headcovering, which may be a hijab, turban, or creatively-shaped veil or headscarf. With this look, the artists want to show that women who wear headcovering can also be trendy, stylish, creative, and progressive.

For this look, the artists have designed an evening dress with colorful frills, ribbons, turban, and earrings, which trendy Muslim women may wear to fancy gatherings. On those frills are written all kinds of sayings that are meant to limit women, such as “Women can’t work”, “Women may be hit”, “Women should stay at home”, “Women must be covered”, “Women cannot be leaders”, “Women must be virgins”, “Women must submit to their husbands”, “Men can take multiple wives”, and so on. The colorful frills and ribbons represent how women’s subjugation is often packaged in pretty excuses, such as “for women’s own protection” or “to ennoble women”. At the fashion show on opening night, the model-performer ripped the frills and ribbons one by one—symbolizing her struggle to liberate herself from those limitations. Finally, she revealed the final message on the plain black evening dress: “All Humans are Equal before God.”

© As-Salam Collective

© As-Salam Collective

(IND) Globalisasi membuat dunia menjadi terasa semakin kecil, perlintasan budaya juga menjadi semakin mungkin. Pada era 2000-an sebagian perempuan Muslim Indonesia yang memilih memakai jilbab semakin mengkreasikan padu-padan jilbab dan pakaian yang dipakai. Jilbab tak melulu lagi berbentuk segitiga atau persegi panjang, pun pakaian yang dipilih tak lagi hanya baju kerudung atau kebaya. Pilihan-pilihan baju yang lebih santai, seperti kaus, blus, dan jins banyak dipakai perempuan berjilbab. Pemilihan padu-padan ini, bagi perempuan-perempuan tersebut, juga menjadi sebuah simbol pernyataan bahwa perempuan berjilbab tak melulu "tradisional", "kolot", maupun "konservatif", tapi juga "funky", "santai", “gaul”, “trendi”, dan "progresif".

Pada karya ini, seniman menyematkan berlapis-lapis renda dan pita yang dibubuhi berbagai anggapan yang tidak adil tentang posisi perempuan di keluarga dan masyarakat, seperti: “Perempuan di rumah saja”, “Perempuan tidak boleh bekerja”, “Perempuan tidak boleh jadi pemimpin”, “Perempuan harus perawan”, “Perempuan harus patuh pada suami”, “Perempuan boleh dipukul”, “Perempuan boleh dipoligami”. Renda dan pita berwarna-warni melambangkan betapa narasi-narasi untuk mengekang perempuan sering dikemas cantik dengan alasan untuk memuliakan atau untuk perlindungan perempuan. Saat peragaan busana pada malam pembukaan, model menyobek renda dan pita satu per satu—menggambarkan perjuangan perempuan untuk membebaskan diri dari berbagai pembatasan itu. Akhirnya, terungkaplah pesan terakhir yang dijahit ke gaun malam hitam di lapisan terdalam: "Semua Manusia Setara di hadapan Tuhan."

Foto oleh Jin Panji dan tim

Foto oleh Jin Panji dan tim

03

Queer Indonesian Muslim Look

2019

Mixed media clothing

Variable dimensions

 

(ENG) The existence of Queer individuals within Muslim communities is still not much widely discussed in Indonesia. In fact, in the context of Indonesia, where the majority of the population is Muslim, the existence of individuals who are both Muslim and Queer cannot be denied or ignored. But there is an assumption that Muslims who are also Queers have automatically left the Muslim community.

As-Salam Collective created baju koko (a shirt traditionally regarded as Muslim men’s shirt), peci (a traditional Indonesian Muslim men’s headwear), and a sarong in the colors of the transgender flag. The clothes assert that a Queer individual can very much be a Muslim, and vice versa, and that Islam is supposed to be a religion that brings blessing for the entire universe and its inhabitants, including the Queer community.

(IND) Keberadaan insan-insan Queer dalam komunitas Muslim masih belum banyak dibahas di Indonesia. Padahal, dalam konteks Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, jalinan kedua identitas ini tidak bisa dibantah atau diabaikan. Belum lagi ada anggapan bahwa Muslim yang juga Queer dianggap otomatis sudah keluar dari komunitas Islam. Pakaian yang ditampilkan ini menjadi simbol untuk membantah anggapan tersebut. Bahwa seorang Queer sah-sah saja menjadi Muslim, begitu pun sebaliknya. Dan bahwa Islam dapat sungguh menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin, yang artinya berkah bagi seluruh semesta dan penghuninya, termasuk komunitas Queer.

Karya kami berupa sarung dalam warna-warna bendera transgender, baju koko yang berakar dari budaya Tiongkok dan bertuliskan “Rasisme adalah dosa turunan iblis, yang merasa lebih baik daripada manusia karena ia diciptakan dari api dan manusia dari tanah”, serta peci bertuliskan “Zauj (nomina tak bergender): pasangan, tak mesti laki-laki atau perempuan.”

Foto oleh Jin Panji dan tim

Foto oleh Jin Panji dan tim

04

Mukena

2019

Mixed media clothing

Variable dimensions

 

(ENG) Mukena is an Indonesian invention, a covering Indonesian Muslim women wear when they perform prayers. It is the result of negotiations between Wali Songo who brought Islam to the archipelago and the local women who then had found it difficult or unacceptable if they had to be covered from head to toe. Therefore, they created a covering that could be worn only when performing prayers. Mukena symbolizes the powerful determination and bargaining power that Indonesian women had. Unfortunately, this narrative is now suppressed or lost. As-Salam Collective is bringing the narrative back by creating a mukena designed with images of moon orchid, an Indonesian national flower, and the words “I Create Mukena Only for Allah” and “The Power of Indonesian Muslim Women”.

(IND) Mukena adalah salah satu ‘pakaian Islami’ perempuan yang paling dikenal. Umumnya, perempuan Muslim Indonesia memiliki mukena. Namun, tak banyak yang tahu bahwa mukena berasal dari Indonesia. Ketika Islam masuk ke Nusantara, budaya yang mengharuskan perempuan menutup kepala juga masuk. Namun, banyak perempuan pada masa itu tidak setuju untuk mengadaptasi budaya tersebut, karena tidak sesuai dengan kondisi geografi dan kebutuhan pekerjaan. Akhirnya, mereka berkompromi dengan menciptakan mukena, yang bisa dipakai hanya ketika beribadah, sehingga mereka tak perlu memakai jilbab sehari-hari jika tidak mau. Mukena melambangkan kekuatan posisi dan daya tawar perempuan Indonesia pada masa itu, untuk dapat beribadah dan tetap bekerja dengan leluasa dan melakukan apa pun yang mereka inginkan. Itulah mengapa mukena dalam karya kami dibubuhkan dengan pesan-pesan kekuatan perempuan Islam Indonesia: “I Create Mukena Only for Allah” dan “The Power of Indonesian Muslim Women”.

  

Foto oleh Jin Panji dan tim

Foto oleh Jin Panji dan tim

05

Non-Hijabi Indonesian Muslim Look

2019

Mixed media clothing

Variable dimensions

 

(ENG) Current mainstream Islamic narratives in Indonesia only presents Islamic women as wearing headscarves, veils, chadors, etc. In fact, one manifestation of the diversity of Islam in Indonesia is the freedom of Muslim women to choose what clothes they wear, with or without the veil. This look shows one of the daily attires of Indonesian Muslim women who choose not to wear the veil. The clothes also convey the message that women are free to wear whatever clothes make them feel comfortable, that clothes do not at all indicate a person's faith. One can choose not to wear the veil and love her Creator in her own way.

The tanktop is designed with the crescent moon and star motif, along with the words "Your faith is not reflected in your clothes or how well you perform rituals, but in what do you do". The skirt is designed with a belly dancer style scarf, another form of culture from the Islamic world where the women don’t wear veils. The shawl is designed with the names of God, the majority of which are gentle and loving, accompanied by the question "Then why do we know God more as a condemnator and a punisher?"


(IND) Narasi keislaman arus utama kini hanya menampilkan perempuan Muslim sebagai sosok yang memakai penutup kepala, seperti jilbab, hijab, cadar, dll. Padahal, salah satu wujud keragaman Islam di Indonesia adalah kebebasan perempuan Muslim menentukan apa yang mereka pakai, dengan atau tanpa jilbab. Pakaian yang dipamerkan ini memperlihatkan salah satu gaya keseharian perempuan Muslim Indonesia yang tidak berjilbab. Di dalamnya tersirat pesan bahwa perempuan bebas memakai apa pun yang membuatnya nyaman, bahwa pakaian sama sekali tidak menentukan keimanan seseorang terhadap Tuhannya. Seseorang bisa memilih tidak berjilbab dan mencintai pencipta-Nya sedemikian rupa. Wallahualam.

Kaus buntung didesain dengan motif bulan dan bintang dengan tulisan “Agama tidak dilihat dari ritual atau pakaian, tapi dari akhlak”. Rok didesain dengan selendang gaya penari perut, satu lagi bentuk budaya dari dunia Islam yang tidak memakai kerudung. Selendang didesain dengan nama-nama Allah yang ternyata kebanyakan bersifat lembut dan penuh kasih, diiringi pertanyaan “Lantas mengapa kita lebih mengenal Tuhan sebagai pelaknat dan pengazab?”


Eliza Handayani